Wagub Sumsel Ir H Ishak Mekki MM menyatakan kekaguman dan rasa bangga yang luar biasa mendengar kabar Komjen Pol Tito Karnavian asal Palembang (Sumsel) dipilih Presiden Joko Widodo sebagai calon tunggal Calon Kapolri.

“Kita merasa bangga sebagai warga Sumsel yang terpilih,” ungkap Wagub Sumsel Ir H Ishak Mekki MM, Rabu (15/6/2016).

Mantan Bupati OKI menyatakan salut dan menilai sudah sepantasnya Presiden Jokowi memilih pria asal Palembang yang merupakan sosok cerdas dan angkatan terbaik.

“Sangat wajar beliau dipilih Presiden karena merupakan angkatan terbaik. Kita lihat saja perjalanan beliau sukses baik di Jayapura maupun di DKI. Selama beliau memegang jabatan, tidak ada gejolak. Semua kondusif. Orangnya cerdas, dikenal masyarakat maupun jajaran Polri,” puji Ishak yang juga Ketua DPD Partai Demokrat Sumsel.

Ishak mengaku kagum membaca profil Komjen Pol Drs Muhammad Tito Karnavian MA PhD yang lahir di Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia, 26 Oktober 1964.

Tito adalah seorang perwira Kepolisian Negara Republik Indonesia, yang berhasil membongkar jaringan teroris pimpinan Noordin Moch Top. Tito yang tadinya berpangkat Kombes Pol naik pangkat menjadi Brigjen Pol dan naik jabatan menjadi Kepala Densus 88 Antiteror Mabes Polri.

Tito Karnavian menggantikan Brigjen Pol Saud Usman Nasution, yang menjabat Direktur I Keamanan dan Transnasional Bareskrim Mabes Polri.

Sesuai dengan Telegram Rahasia Kapolri tertanggal 3 September 2012, Tito diangkat menjadi Kepala Kepolisian Daerah Papua menggantikan Irjen Pol Bigman Lumban Tobing, sekarang Tito menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya.

Tito Karnavian mengenyam pendidikan SMA Negeri 2 Palembang. Tito melanjutkan pendidikan Akabri tahun 1987. Tito menyelesaikan pendidikan di Universitas Exeter di Inggris tahun 1993 dan meraih gelar MA dalam bidang Police Studies, dan menyelesaikan pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) diJakarta tahun 1996 dan meraih Strata 1 dalam bidang Police Studies.

Sekolah dasar dan sekolah menengah pertama beliau bersekolah di Xaverius dan mengnyam pendidikan di SMA Negeri 2 Palembang. Tatkala duduk di kelas 3, Tito mulai mengikuti ujian perintis. Semua tes yang ia jalani lulus, mulai dari Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, Kedokteran di Universitas Sriwijaya, Hubungan Internasional di Universitas Gadjah Mada, dan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Keempatnya lulus, tapi yang dipilih Akabri.

Tito Karnavian juga menyelesaikan pendidikan di Massey University Auckland di Selandia Baru tahun 1998 dalam bidang Strategic Studies, dan mengikuti pendidikan di Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University, Singapura, tahun 2008 sebagai kandidat PhD dalam bidang Strategic Studies. Maret 2013 ia menyelesaikan PhDnya dengan nilai excellent.

Karier Tito dalam kepolisian cepat melesat berkat prestasi yang dicapainya. Tahun 2001, Tito yang memimpin Tim Kobra berhasil menangkap Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto, putra mantan Presiden Soeharto. Berkat sukses menangkap Tommy, Tito termasuk polisi yang mendapat kenaikan pangkat luar biasa.

Tahun 2004, ketika Densus 88 Antiteror dibentuk untuk membongkar jaringan terorisme di Indonesia, Tito Karnavian yang saat itu menjabat Ajun Komisaris Besar (AKBP) memimpin tim yang terdiri dari 75 personel. Unit antiteror ini dibentuk oleh Kapolda Metro Jaya (waktu itu) Irjen Firman Gani.

Tito juga termasuk polisi yang mendapat kenaikan pangkat luar biasa saat tergabung dalam tim Densus 88 Antiteror, yang melumpuhkan teroris Dr Azahari dan kelompoknya di Batu, Malang, Jawa Timur, 9 November 2005.

Densus 88 Antiteror juga berhasil menangkap 19 dari 29 warga Poso yang masuk dalam DPO di Kecamatan Poso Kota, 2 Januari 2007. Tito dan sejumlah perwira Polri lainnya juga sukses membongkar konflik Poso dan meringkus orang-orang yang terlibat di balik konflik tersebut.

Terbongkarnya jaringan terorisme di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini, termasuk pengepungan teroris di Solo pada 17 September 2009 yang menewaskan empat orang, termasuk satu di antaranya Noordin Moch Top.

Kejeniusan Tito dalam mengendus keberadaan Noordin inilah yang membuat Tito Karnavian mendapat promosi kembali. Tito kini menjadi orang nomor satu dalam Densus 88, detasemen antiteror Mabes Polri. Lima tahun lalu, Tito yang berpangkat AKBP juga memimpin unit kecil antiteror ini, yang kemudian berkembang menjadi detasemen khusus.

LEAVE A REPLY